Untuk para ustadz dan ustadzah, musyrif dan musyrifah

Upload by Admin - dibaca 314 Kali

Sekeping Catatan Hati.. Anak-anak kami, Adalah bagian dari jiwa kami.. Melepas mereka tak ubahnya seperti mencabut hati kami sendiri. Andai bisa, tentu kami ingin mereka selalu dalam jangkauan mata. Namun kami sadari, tangan kami saja tak cukup kuat membimbing mereka.. Kami mencintai mereka, Tapi, cinta kami seringkali buta, Tak sanggup melihat aib dan kurang mereka.. Kami menyayangi mereka, Tapi kasih sayang kami terkadang tak cukup menyelamatkan mereka dari api Neraka.. Menyadari ketidakberdayaan kami, Dengan sepenuh kesadaran, kami lepaskan anak-anak kami jauh dari rumah, tempat mereka dibesarkan.. Ada sesak yang kami tahan di dada, Ada air mata yang diam-diam kami tumpahkan, (Ketika) melepas kepergian mereka.. Hanya harapan yang sanggup membuat kami berpura-pura tersenyum, Harapan kiranya perpisahan ini menjadi jalan yang akan mengantar mereka menuju ketakwaan.. Anak-anak kami, Datang ke #Pondok ini dengan segenap kekurangan mereka.. Maafkan, jika mereka kurang santun dlm berperilaku, Kurang sopan dlm bertutur kata, Kurang sungguh-sungguh dalam belajar, Kurang taat pada peraturan, Dan sederet kekurangan lainnya.. Anak-anak kami, Bukan sepotong kain yang kami kirim untuk dijahit menjadi baju dalam hitungan hari, Bukan adonan tepung yang hanya butuh beberapa jam untuk mengolahnya menjadi roti.. Tapi, jiwa-jiwa yang punya ego dan perasaan, Yang perlu proses panjang untuk membentuk akhlak dan kepribadian mereka.. Mungkin, sesekali mereka akan membangkang, Dan dengan keterbatasn ilmunya, justru menjerumuskan diri ke dalam dosa.. Saat itulah, kami harapkan teguran penuh kelembutan dari ustadz untuk anak-anak kami.. Atau, peringatan tegas, bahkan sedikit "keras" dalam batas syariat sebagai pendidikan... Betapapun kami menyayangi anak-anak kami, Betapapun kami ingin mereka hidup nyaman tanpa beban, Kami masih tega melihat mereka menanggung "kesusahan" hidup sebagai santri, Demi mendidik mereka menjadi pribadi bertakwa.. Kami rela mereka menanggung beban dunia, Tapi kami tak sanggup melihat anak-anak kami terjerumus dalam dosa dan tersiksa dalam panasnya Neraka.. Karenanya, Dengan segala kerendahan, Kami (meng-) harapkan bantuan ustadz dalam membimbing mereka.. Anak-anak kami, Pergi jauh meninggalkan orangtua dan sanak saudara, Kami harap di Pondok mereka menemukan gantinya.. Rengkuh mereka sebagai anak, Atau adik yang layak disayangi setulus hati.. Jangan pandang mereka dengan ketidaksempurnaan mereka saat ini, Tapi lihatlah mereka belasan atau puluhan tahun mendatang.. Anak-anak kami, Dengan segala kekurangannya adalah aset muslimin, Calon penerus perjuangan masa depan.. Kami tak mengharap kesempurnaan ustadz dalam memahami anak-anak kami, Sebab kami sendiri, yang mengenal mereka sejak masih dalam kandungan-pun, seringkali gagal mengenali karakter mereka.. Hanya kesabaran dan kesungguhan dalam usaha, Yang kami yakin tak semudah membalik telapak tangan.. Meski sebenarnya kami merasa malu, Sebab kami tak dapat menawarkan apapun sebagai imbalan.. Hanya ucapkan doa, Kiranya setiap tetes keringat akan meluruhkan dosa-dosa.. Kiranya setiap jengkal langkah dan jerih payah meninggikan derajat Antum di taman-taman Surga.. Dan kiranya setiap sesak yang menghimpit karena ulah anak-anak kami melapangkan jalan Antum menuju ridha-Nya.. Kami, dengan sepenuh usaha akan belajar ikhlas melepas anak-anak kami.. Akan kami iringi kesabaran ustadz dengan ketabahan.. Akan kami imbangi kegigihan Antum dengan doa dalam sujud-sujud panjang.. Akan kami teladani keikhlasan dan kesungguhan Antum, sebab kami sadar, kami-lah yang pertama bertanggung jawab terhadap pendidikn anak-anak kami... Bi-idznillah, insya Allah.. Sumber : Dr. Abdurrahim Al-Basyir, M.Pd